Sabtu, 03 Maret 2012

Budidaya Cabe Cara 4 Sehat 5 Sempurna

KONSEP DASAR: 
1.  Varietas Benih Unggul
2.  Bibit yang Sehat
3.  Olah Tanah yang Matang
4.  Pupuk Organik, MINIM N
5.  Pengendalian Hama Terorganisasi
 
 1. VARIETAS UNGGUL

Varietas yang unggul ditandai keseimbangan antara produksi yang tinggi dan ketahanan penyakit. Banyak varietas yang unggul dengan produksi tinggi, tetapi rentan serangan HPT dan sebaliknya. Pemilihan varitas dapat dilakukan melalui informasi mulut ke mulut, melihat langsung penampilan tanaman di lahan petani atau
kebun percobaan perusahaan dan sumber-sumber informasi lainnya.
Daerah yang banyak terserang virus harus memperhatikan hal-hal sbb:
$ Umur panen genjah <--- produksi tinggi & biaya perawatan lebih rendah.

$ Bentuk daun kecil & lonjong<--- kelembaban rendah (risiko penyakit kecil) & hemat   volume semprot.

$ Tajuk tanaman semi tegak untuk aerasi dan jangkauan penyemprotan yang baik<--- keefektifan semprot lebih tinggi.  
$ Perakaran yang dalam dan lebar<--- tahan kering & kemampuan penyerapan pupuk lebih kuat. 

2. PERSEMAIAN

1.  Tidak melakukan persemaian sebelum guludan kasar terbentuk. Bibit yg terlalu besar biasanya lebih mudah mati pada saat dipindahkan, cepat berbunga, cepat berbuah dan cepat mati.
2.  Media semai: 2 bagian tanah dan 1 bagian pupuk kandang yg sudah diayak. Tambahan SP-36 yang telah dihaluskan sebanyak 100 – 150 gr (6 sdm) / 30 liter campuran tersebut (gunakan ember 10 ltr untuk mempermudah pelaksanaan). Media semai dimasukkan ke dalam plastik polybag ukuran 8 x 10 cm atau 6 x 8 cm.  Carbofuran 3% 150-200 gr (8 sdm).
3.  Cara penyemaian cabe, penyemaian langsung dan penyemaian melalui pemeraman sebelum digunakan polybag semai disiram dengan fungisida Previcur N 2.5 cc/ltr air.
4.  Perawatan:
a.  Jangan menggunakan pupuk daun maupun ZPT selama persemaian --->bibit akan terlalu subur.
b.  Gunakan fungisida dan atau insektisida dengan dosis setengah anjuran saja.
c.  Pada saat sudah terbentuk 1-2 daun sejati, tanaman mulai dilatih mendapatkan
penyinaran penuh. Ciri2 bibit yang kekar: Batang bibit berwarna ungu dan kokoh bila
diraba.
d.  Bibit siap dipindah-tanam bila sudah 3-4 daun sejati. Waktu pindah tanam yang baik adalah sore hari.

3. PENGOLAHAN TANAH

1.  Tanah berat/sawah: 
      --->Pembersihan dari sisa tanaman sebelumnya, rumput dan gulma.
      --->Pembajakan (singkal dan rotari) dan pengapuran 2-4 ton/ha (alternatif lain:    kapur dapat diberikan setelah guludan terbentuk 1-2 ons/tanm) -->pH 5,5-7
      --->Pembentukan guludan dan penaburan pupuk kandang (20 ton/ha atau 1 kg/tan; pupuk ayam sebaiknya dihindari)
      --->Penghalusan guludan, penaburan pupuk dasar dan pemasangan mulsa.

Tanah berat (tanah sawah) memerlukan pengolahan dengan cara pembajakan singkal dan rotari. Pembajakan yang dilakukan adalah bajak kering. Bajak kering dilakukan dengan cara: Tanah yang kering dibasahkan dan tanah yang basah dikeringkan. Tanah yang kering sehabis panen padi dileb terlebih dahulu. Biarkan air merendam tanah sampai kondisi jenuh (air tidak meresap lagi). Selanjutnya air dibuang dan tunggu 12-24 jam (tergantung jenis tanah) baru kemudian dilakukan pembajakan singkal. Guludan kasar dapat segera dibentuk setelah pembajakan singkal ini atau ditunggu setengah kering terlebih dahulu. Untuk tanah dengan kandungan liat yg tinggi diperlukan pengeringan tanah kurang lebih 2-4 minggu. Pengeringan ini berfungsi untuk mematikan penyakit-penyakit tular tanah melalui proses oksidasi dan penyinaran ultra violet matahari. Tanah yang sudah kering sempurna bila tersiram air akan menjadi remah-remah halus. Dengan demikian struktur tanah guludan akan menjadi gembur dan porus yang memungkinkan air meresap dan menyebar ke seluruh guludan. Penyebaran dan peresapan air yang merata akan memungkinkan pupuk dapat terserap dengan sempurna. Tanah yang porus juga memungkinkan
pertukaran udara di luar dan di dalam guludan berlangsung dengan baik. Akar juga memerlukan udara untuk bernafas. Ini juga alasannya kenapa tinggi guludan harus dibuat seoptimal mungkin (60-70 cm di musim hujan dan 50-60 cm di musim kemarau). Air yang merendam akar akan mengakibatkan akar tanaman tidak dapat bernafas dan menjadi busuk. Dengan demikian, air leb dan air hujan di selokan tidak boleh ketinggiannya  sampai di daerah perakaran. Hal ini hanya diumungkinkan kalau pengolahan tanahnya dilakukan di semua bidang tanah.  Pembentukan guludan dengan cara menaikkan tanah dari selokan SANGAT TIDAK DIANJURKAN untuk budidaya tanaman cabe. Guludan yang terbentuk dengan cara ini akan menghasilkan guludan dengan bagian bawah yg keras dan hanya menyisakan tanah yang gembur di bagian atas. Bagian yang gembur ini biasanya hanya mempunyai kedalaman 30 cm. Kedalaman akar cabe dapat mencapai 40 cm. Ruang pertumbuhan akar cabe jadi sangat sumpek/sempit, dan mengakibatkan tanaman cabe jadi rentan layu. Di musim hujan, seringkali pengeringan tidak dapat dilakukan atau pun kurang optimal. Dalam kondisi seperti ini, khususnya di dataran rendah bajak rotari sangat dianjurkan setelah pembajakan singkal.  Pada saat pembajakan rotari pupuk kandang (minimal 20 ton/ha) dan pengapuran (2-4 ton/ha) dapat dilakukan. Penaburan pupuk kandang dapat juga dilakukan belakangan, yaitu setelah dibentuk guludan. Pemberian kapur sebaiknya dilakukan minimal 3 minggu sebelum penebaran pupuk kimia. Setelah bajak rotari, dapat dilakukan pembentukan guludan kasar. Bentuk guludan masih berupa bongkah-bongkah tanah kasar. Biarkan bongkah2 besar tersebut sampai kering. Lama pengeringan tergantung jenis tanah. Kapur yang digunakan dapat
berupa kapur dolomit maupun kalsit.
2.  Tanah Ringan:
Pada tanah ringan, pembajakan tidak diperlukan. Tanah ringan biasanya terletak di daerah pegunungan yang tidak mungkin digunakan alat bajak, juga sudah cukup gembur, sehingga dapat langsung dibentuk guludan.

Ukuran guludan
1.  Musim hujan: L = 110 – 120 cm; T = 60 – 70 cm; Selokan L = 50 – 60 cm. Jarak tanam 60 x 70 cm, satu guludan dua barisan tanaman, disarankan penanaman sistem
segitiga.
2.  Musim kemarau: L = 110 – 120 cm; T = 50 – 60 cm; Selokan L = 50 – 60 cm
Jarak tanam 50 x 60 cm, satu guludan dua barisan tanaman.

4. PUPUK DASAR
--->pupuk kandang (non unggas) = 1 kg per tanamaN
--->alternatif dosis & jenis pupuk kimia:
–NPK 16:16:16 = 15 - 25 gr per tanaman, atau
–NPK 08:15:19 = 15 - 25 gr per tanaman, atau  
Pupuk Susulan
Cara aplikasi :
Fase Vegetatif  NPK 16:16:16  10 gr/lt  250ml  dikocor umur 15 hst 
Fase generatif  NPK (16:16:16)  10 gr/ltr  250ml dikocor umur 35 hst
Fase generatif  NPK (16:16:16)  2.5 gr/ taanaman sdm/lubang*)  ditugal umur 50-55 hst
Catatan: 250ml = 1 gelas belimbing; NPK 10 gr = 1 sdm
 *)= Dibuat lubang tugal di bagian tengah guludan antara 2 tanaman untuk 1 lubang 1 sdm.

5. PENGENDALIAN HAMA TERORGANISASI
    PENYAKIT NON INFEKSI ALIAS PENYAKIT NON PATOGENIS

Dari segi banyaknya hara yang diperlukan unsur hara dibagi ke dalam unsur hara makro dan mikro. Unsur hara mobil dan immobil adalah unsur hara yang dibedakan oleh kemampuannya dipindahkan atau tidak dapat dipindahkan dari suatu bagian tanaman ke bagian lainnya apabila terjadi defisiensi. Unsur hara organik adalah semua unsur hara yang berasal dari makhluk hidup, sedangkan unsur hara anorganik didapatkan dari proses penambangan maupun dari proses industri.
Gejala defisiensi hara merupakan gejala pertumbuhan tanaman yang tidak normal akibat adanya kekurangan satu atau beberapa unsur hara. Kekurangan unsur hara ditambah dengan gangguan cuaca (terik matahari, angin, temperatur dll) umum disebut sebagai penyakit non-patogenik atau penyakit non-infeksi. Di lapangan apabila tidak diamati secara cermat biasanya kita salah menganalisis bahwa suatu tanaman terserang penyakit atau defisiensi salah satu unsur hara.


2 komentar:

  1. Mas, kalau bisa warna font diubah saja.
    Kurang jelas dibacanya.

    BalasHapus
  2. trimakasih sarannya pakdadi,,sudah sy rubah...

    BalasHapus